TAKE ACTION…

 

Segudang uang (modal) yang anda miliki dan setinggi langit mimpi yang ingin anda raih, semuanya hanya akan berakhir sia-sia jika tidak pernah di coba untuk di wujudkan. Mimpi hanya akan tetap menjadi mimpi jika anda tidak pernah berusaha untuk mewujudkaannya menjadi sebuah kenyataan. Lalu muncul pertanyaan, kenapa banyak sekali orang yang secara lahiriah “pantas” dan siap menyambut kesuksesan di depannya  namun masih saja belum tergapai, jawabannya hanya satu, yaitu : orang tersebut belum pernah mencoba untuk mewujudkannya alias belum pernah action. Ingatlah kawan, selalu muncul sebuah “kemungkinan” manakala anda mencoba (action) yaitu yang pertama anda akan gagal, atau yang kedua anda akan sukses. Sedangkan tidak akan pernah ada kemungkinan jika anda tidak pernah mencoba, karena yang ada hanyalah kepastian yaitu anda pasti akan gagal. Kenapa? Bagaimana anda bisa sukses jikalau mencoba saja tidak pernah. Sebuah logika sederhana yang banyak dilupakan orang akhir-akhir ini.

Kapan waktu atau moment yang tepat untuk memulai menggapai impian yang sudah anda idam-idamkan?. Pertanyaan sederhana ini seringkali sulit untuk di jawab dan kebanyakan orang yang belum siap sukses akan menjawab dengan pernyataan “ menunggu nanti saja kalau sudah selesai kuliah” atau “ menunggu kalau sudah siap” atau “ menunggu kalau sudah punya modal untuk memulai usaha”, dan lain sebagainya. Padahal pada dasarnya kalau kita mau berfikir lebih mendalam, apa gunanya sih menunda- nunda mengambil langkah pertama?tidak ada. Semakin awal anda memulai maka semakin banyak pula kesempatan anda untuk “belajar” menikmati kegagalan selama berproses menuju kesuksesan itu. Selain itu, semakin cepat pula anda mengetahui apa-apa saja yang perlu diperbaiki agar lebih efektif dan efisien dalam pencapaian impian anda. Tidak ada ruginya anda memulai secepat mungkin, justru menunda-nunda pekerjaan itulah yang akan menumpuk kesengsaraan.

Ungkapan yang sering kita dengar dalam acara-acara seminar motivasi dan pengembangan diri seperti “Tidak ada hal-hal yang besar tanpa di awali dari hal-hal kecil” memang benar adanya. Oleh karena itulah, maka tidak ada masalah yang besar di dunia ini, yang ada hanyalah masalah kecil yang kita tunda-tunda untuk menyelesaikannya sehingga menumpuk menjadi masalah yang besar, benar kan?. Begitu pula impian, jika kita ingin meraihnya maka harus kita awali dari satu langkah. Jangan pernah berfikir seribu langkah jika satu langkahpun belum pernah kamu lakukan.

START NOW!!!. Ya, dua kata itulah yang menjadi saran saya untuk anda semua. Jangan menjadi orang yang terus menerus hidup dalam mimpi,bangunlah dan wujudkan mimpi itu menjadi kenyataan melalui usaha nyata. Jangan menjadi orang yang banyak memiliki rencana bisnis dan impian namun tidak ada tindakan nyata alias NATO (No Action Talk Only). Actions speak louder than words (tindakan berteriak lebih keras daripada ucapan). Waktu adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidup ini. Jangan pernah mengulur-ulur waktu karena ia tidak akan berputar kembali untuk mengulang masa-masa dimana anda menyia-nyiakannya dulu. Jangankan untuk kembali, berhenti sedetik pun tidak. Oleh karena itu, gunakanlah waktu sebijak dan seproduktif mungkin dalam usaha meraih impian anda. Perbedaan antara orang yang sukses dan gagal bisa ditentukan dari seberapa dia memanfaatkan waktu dengan baik, efektif dan efisien.

Jika anda telah siap, lakukanlah sekarang juga!. Semakin lama anda menunda maka anda akan semakin banyak kehilangan peluang dan kesempatan untuk sukses. Sikap malas dan ogah-ogahan hanya akan membuat anda tertinggal karena mungkin ratusan bahkan ribuan orang lain di luar sana memiliki konsep dan ide usaha yang sama dengan yang anda pikirkan.

 

+++ SALAM SUKSES +++

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

MERETAS MIMPI SEORANG ANAK TKI

MERETAS MIMPI SEORANG ANAK TKI

          Nama saya Fery Abdul Choliq, mahasiswa strata dua (S-2) di Department of Plant Medicine, National Pingtung University of Science and Technology-Taiwan. Terhitung sejak tahun 2012, saya tercatat sebagai salah satu dosen muda di Universitas Brawijaya Malang. Namun, sejak di bangku S1, saya telah aktif merintis berbagai usaha, dan terus menjadi wirausaha sampai sekarang. Usaha yang telah saya rintis dan miliki mencakup lembaga bimbingan belajar, usaha rental dan jasa komputer, usaha ternak kambing, bisnis tanaman hias, dan budidaya jamur tiram.

Saya adalah anak dari seorang mantan TKW di Malaysia bernama bu Sarmini. Ibu saya memutuskan menjadi TKW di Malaysia dikarenakan faktor ekonomi dan terbelit hutang. Namun, setelah sekembalinya ke tanah air, ibu saya menjadi aktivis sosial di lingkungan tempat tinggal saya, terutama menolong/mengantarkan orang sakit untuk berobat, menjadi pengurus panti asuhan dan kegiatan desa. Pernah suatu saat ibu saya berdoa :“jika saya ke luar negeri untuk mencari uang, mudah-mudahan anak saya bisa ke luar negeri untuk mencari ilmu”. dan Alhamdulillah doa itu terjawab lewat saya, bahkan bukan hanya untuk mencari ilmu namun juga berbagi ilmu dan pengalaman hidup kepada rekan-rekan BMI (Buruh Migran Indonesia) di Taiwan karena saya beberapa kali mengisi seminar tentang kewirausahaan dan motivasi untuk rekan-rekan BMI.

Di Taiwan ini juga saya aktif di beberapa organisasi sosial yang berhubungan langsung dengan pemberdayaan BMI, yaitu 1) Ketua Divisi Entrepreneurship FORMMIT yang mengadakan pelatihan-pelatihan kewirausahaan bagi BMI, 2) Pengurus Universitas Terbuka Taiwan untuk para BMI agar bisa kuliah sambil bekerja, dll.

Harapan saya hanya satu untuk kawan-kawan BMI, yaitu mudah-mudahan ilmu kewirausahaan yang saya berikan bisa bermanfaat untuk mereka sehingga mereka mampu menjadi pengusaha sukses di Indonesia dan tidak perlu kembali lagi ke Taiwan untuk bekerja. Semua aktivitas sosial yang saya lakukan di Taiwan semata-mata adalah sebagai “balas budi” kepada ibu saya karena saya bisa memahami betul (merasakan sendiri) bagaimana beratnya perjuangan TKI di luar negeri untuk bisa membahagiakan keluarganya di Indonesia.

Saya pernah di undang oleh KDEI (Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia) di Taipei  untuk menyampaikan materi yang berkaitan dengan entrepreneurship. Pihak KDEI juga mengundang beberapa pemateri dari Jakarta seperti bapak Fahmi Idris (Mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI) dan organisasi PENIMARKA (Peningkatan Martabat Tenaga Kerja).

IMG_7587

Gambar 1. Bersama bapak Fahmi Idris dan KDEI dalam kegiatan Pembekalan Kewirausahaan di Taipei.

Adapun topik yang dibawakan oleh dosen muda FP-UB ini adalah “How to be New Entrepreneur”. Dalam pemaparan materi, saya menekankan arti pentingnya menjadi pengusaha bagi para TKI ketika nantinya sudah kembali dari Taiwan ke Indonesia, mengingat sulitnya mencari lapangan kerja di negeri sendiri. Selain itu juga memberikan langkah-langkah awal bagaimana menjadi pengusaha yang mandiri serta tips dan trik menjadi pengusaha yang sukses dan tahan krisis. Selain itu pada beberapa kesempatan lainnya, saya juga aktif memberikan pelatihan bisnis “Budidaya Jamur Tiram” pada beberapa organisasi TKI yang ada di Taiwan, seperti FKKBWIT (Tainan), FOSMIT (Chungli) dan Shelter TKI (Taoyuan), dll.

 

pelatihan-jamur-620x300

Gambar 3. Pelatihan Kewirausahaan bersama rekan-rekan BMI dan Mahasiswa di masjid besar Taipei.

 

Semoga kisah hidup saya yang anak seorang mantan TKW mampu menginspirasi orang lain terutama rekan-rakan TKI di luar negeri agar menjadi orang yang sukses di kemudian hari, karena saya yakin bahwa semua orang di takdirkan untuk menjadi orang yang sukses, yang membedakan hanyalah orang tersebut mau memperjuangkan kesuksesannya itu atau tidak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

MURID TELADAN ^_^

  • ImagePLAKAT TANDA JASA
    Aku duduk termangu. Dengan tatapan sayu kupandang semua benda yang siang itu sengaja kujejerkan di sebuah trotoar dekat Malioboro, Jogja. Sengatan matahari yang begitu menyengat tak kuhiraukan. Semakin dalam kupandangi benda-benda ini, tiba-tiba memoriku seperti kembali terlempar ke sebuah kenangan yang begitu manis di masa lalu. Ya! Berbagai plakat penghargaan ini adalah bukti betapa aku pernah berbuat sesuatu untuk pendidikan bangsa ini. Kata pegawai dinas pendidikan saat itu, aku berhak mendapatkannya karena pengabdianku selama 35 tahun mengajar di sebuah pedalaman Gunung Kidul. Disaat hampir semua guru dari Jogja menolak untuk dimutasikan mengajar disana.

    Motivasiku saat itu hanya satu. Aku begitu terenyuh melihat semangat anak-anak Gunungkidul. Bagiku, pemandangan paling heroik adalah melihat mereka beriringan memakai baju seragam merah putih kumal, tanpa alas kaki, dan membawa satu tas kresek hitam berisi peralatan belajar. Dan satu hal yang selalu melipatgandakan semangatku mengajar disana adalah senyum ceria mereka. Dengan kondisi penuh kekurangan dan jerat kemiskinan, mereka selalu tersenyum ceria saat mendengar apa yang kusampaikan di depan kelas. Mereka tinggalkan beban hidup mereka di rumah, dan membawa cangkir ilmu mereka ke sekolah ini untuk diisi hari demi hari.

    Lupakan tentang gaji yang seringkali terlambat. Lupakan tentang fasilitas sekolah yang amat jauh tertinggal dari sekolah lainnya di kota. Melihat mereka berteriak bangga karena mendapatkan nilai bagus, untukku adalah bayaran yang tak ternilai harganya. Sungguh, orang tua mereka juga sangat baik. Walaupun mereka sadar hidup serba kekurangan, mereka tak pernah ragu untuk berbagi makanan ala kadarnya untukku dan keluargaku. Kadang singkong, kadang belalang yang sudah digoreng, kadang tumis keong, kadang jika cuaca sedang bersahabat, wali murid yang berprofesi nelayan sering memberiku Ikan segar tangkapan mereka. Dan yang paling istimewa mungkin sarang burung walet yang penuh khasiat. Mereka tak mempunyai cukup uang untuk membayar sekolah anak-anaknya. Tapi mereka sadar bahwa pendidikan adalah bekal begitu berharga.

    Aku kembali tersenyum mengingat itu semua, walaupun harus kuseka air mata haru yang tiba-tiba terbit di pelupuk mataku ini. Di usia enam puluh aku harus pensiun. Dan mau tak mau aku harus kembali ke rumahku di daerah Gamping di pinggiran kota Jogja. Orang tuaku sudah tiada dan Aku harus merawat rumah ini. Meninggalkan anak-anak luar biasa itu beserta seluruh pengalaman berharga di Gunung Kidul memang amat berat.

    “Woi, jualan mbok yo ojo ngalamun!” Warjo si pedagang blangkon meneriaku dan cukup membuatku kaget dan tergagap.

    “Iyo, tawarkan itu pada orang lewat Pak. Kalo diam aja sambil ngalamun yo sampek elek ra bakalan payu dodolanmu.” Bu Narti, si pedagang pecel pun ikut menimpali.

    “Jualanmu menurutku agak aneh Pak, siapa ya yang mau beli barang-barang kayak gitu? Harusnya Pak Giman sumbangin ke musium aja Pak.” Warjo kembali urun pendapat.

    Aku diam saja. Bukannya aku enggan menjawab, tapi memang itulah yang juga aku pikirkan sedari tadi. Orang khilaf mana yang akan membeli barang daganganku ini? Plakat-plakat tua ini memang amat berarti bagiku. Tapi untuk orang lain apa gunanya?

    “ Kenapa to, tanda penghargaan itu harus dijual Pak?” Bu Narti bertanya iba.

    “Aku butuh uang Bu…” Suaraku lirih tercekat.

    “ Apa istri atau anakmu sedang sakit Pak?”

    “Ndak Bu.. Anak bungsuku Asih butuh uang untuk masuk SMA. Aku ndak punya biaya untuk membayar uang gedungnya.”

    “Kenapa ndak ngutang dulu? Siapa tau ada yang mau bantu”

    “Sudah Bu, sudah aku coba ke mana-mana untuk meminjam uang. Tapi ndak ada yang mau minjemin..”

    “Pak Giman bukannya punya gaji? Eh, maksudku uang pensiun?” Warjo tak tahan untuk ikut nyamber.

    “Habis buat nyicil motor ojekannya Danu anak sulungku. Dan buat makan sehari-hari juga kadang ga nutup Jo.”

    Warjo terdiam. Dia tahu benar bagaimana rasanya ada di posisi Pak Giman. Sesama orang kecil, dia merasakan pula bagaimana rasanya bertahan hidup di Kota ini dengan berjualan di kaki lima.

    “Pak Giman yakin, barang dagangannya akan laku? Udah sore ini lho pak..” Bu Narti bertanya lirih kepadaku. Sorot matanya mengisyaratkan perasaan iba kepadaku.

    “Insya Allah bu, kalau Allah memamng berkehendak menurunkan rejekinya, tidak ada satupun hamba yang bisa menghalanginya.” Kujawab sambil mengelap plakat-plakat ku. Entah sudah berapa ratus kali ku lap hari ini.

    Hilir mudik wisatawan di sepanjang Malioboro memang tak pernah sepi. Apalagi ini musimnya liburan. Dagangan blangkon Warjo hari ini tampak laris. Sudah puluhan blangkon yang berhasil ia jual. Dia memang sangat pandai merayu calon pembelinya. Ditambah mukanya yang lugu dan humoris menjadi nilai plusnya. Sedangkan pecel Bu Narti tidak usah di tanya. Walaupun dagangnya di kaki lima, tapi rasanya sudah melegenda. Pelanggannya dari tukang becak hingga direktur Bank yang kantornya di seberang jalan ini. Sedangkan jualanku, belum ada satupun yang menawar. Jangankan menawar, melirikpun aku rasa belum ada.

    Ku lap keringat yang mengucur deras dari tubuh renta ku ini. Semakin kupandang plakat-plakat ini, semakin getir dadaku rasanya. Berbagai penghargaan ini ternyata tak sanggup untuk menghidupiku dan keluargaku. Hanya simbol dan seremonial sesaat dan kini hanya tinggal onggokan benda tak ada nilainya.

    Sebuah ironi nyata di negriku tercinta ini. Tak pernah kubayangkan sebelumnya, predikatku sebagai guru teladan bertahun-tahun beberapa tahun lalu bahkan tak bisa mengantarku menyekolahkan Asih anakku untuk masuk SMA impiannya. Sekolah yang begitu diharapkan Asih untuk membantunya meraih cita-cita tertingginya. Yang dulu setiap saat kusuntikkan itu ke dalam pikiran para muridku.

    “Pak, plakat-plakat ini hendak Bapak jual?” Sebuah suara penuh wibawa mengagetkanku. Suara itu datang dari seorang laki-laki gagah, berdasi, berjam tangan dan bermobil mewah.

    Saking terkejutnya Aku, aku hanya bisa mengangguk angguk semangat dan tersenyum lebar penuh harap. Sudahlah, aku tak peduli walau gigiku sudah banyak yang ompong.

    “Mau Bapak jual berapa Pak?’

    Sekali lagi mulutku terkatup. Pandir benar aku ini, berjam-jam aku duduk disini mengelap dan menjajakannya, tapi belum aku pikirkan harganya. Duh Gusti…

    “Berapa Pak?”

    “ Tiga ratus ribu mawon Pak.”

    “Nggeh, Jadi semuanya satu setengah juta ya Pak? Boleh Saya beli semuanya?”

    Apa??Mau dibeli semuanya? Aku memang sudah tua, tapi telingaku masih belum budek. Dan tidak ditawar sama sekali. Haduh, tau begitu Aku tawarin lima ratus ribu tadi. Ah, sudah laku pun aku sudah beruntung. Duh Gusti, maafkan keserakahan hambaMu ini..

    “ Apa bapak punya penghargaan yang lain Pak?”

    Langsung kurogoh tas hitam tua bututku. Kuambil berbagai macam piagam didalamnya. Piagam guru matematika terbaik se Provinsi, Piagam peserta pelatihan P4 terbaik, Sertifikat sebagai pelatih senam SKJ dan lain-lain yang tidak begitu berarti buatku kukeluarkan semua. Total ada lima belas lembar.

    “ Satunya Bapak jual berapa?”

    “Dua ratus ribu mawon Mas.” Hanya angka itu yang terlintas di kepalaku.

    “ Jadi semua totalnya empat juta lima ratus ribu ya Pak. Bapak jangan kemana-mana, saya akan mengambil uang dulu di ATM seberang jalan itu Pak. “ Kata laki-laki itu menunjuk Bank megah yang berdiri di seberang jalan.

    “ Nggeh Mas, Nggeh!” Aku masih tak percaya. Kukucek mataku. Kucubit sendiri pipiku.Duh, sakit. Berarti Aku tidak sedang bermimpi di siang bolong.

    Menit-menit berlalu. Dan Laki-Laki itu tak kunjung datang. Aku jadi gelisah sendiri Apa dia benar-benar serius mau membelinya atau hanya hanya ingin menggodaku. Ah sudahlah, aku pasrahkan saja pada Gusti Allah. Ah, alhamdulillah laki-laki gagah itu datang juga. Walaupun keningnya agak berkeringat, dia menyerahkan sebuah amplop coklat kepadaku.

    “Monggo dihitung dulu Pak.”

    Kuhitung jumlah uangnya, dan sesegera mungkin kubungkus semua plakat dan piagam penghargaanku. Aku takut laki-laki ini berubah pikiran.

    Kupandang laki-laki muda itu dengan perasaan yang tak karuan rasanya. Antara gembira dan juga sedih. Semua kebanggaanku dan sebagian harga diriku akan dia bawa entah kemana dan untuk apa. Kulipat alas daganganku dan segera kukemasi. Kau ingin segera beranjak pulang. Aku pamitan pada Warjo dan bu Narti yang kurasa juga mereka masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Jangankan mereka, aku pun masih bertanya-tanya.

    “Alhamdulillah ya Pak, benar kata Bapak. Kalo Allah sudah berkehendak menurunkan rezekiNya, tak ada seorang hamba pun yang sanggup menghalanginya.. “ Warjo tersenyum jenaka.

    “ Ini Pak dibawa buat keluarga di rumah.” Bu Narti mengangsurkan bungkusan yang aku rasa berisi Nasi pecel.

    “Waduh Bu, mboten usah repot-repot.” Aku sungkan untuk menerimanya.

    “Sampun Pak, dibawa aja. Ini rejeki lho Pak.. Kan Bapak sendiri yang bilang kalo udah jadi rejeki, ga boleh dihalang-halangi.” Bu Narti tersenyum tulus .

    “Maturnuwun lho Bu. Jarang-jarang Saya dan Keluarga bisa menikmati pecel legendaris buatan Ibu.”

    “Kapan-kapan jangan sungkan main kesini lagi lho Pak!” timpal Warjo .

    Aku mengangguk, setelah kuucapkan salam kuputuskan untuk pulang jalan kaki. Semoga aku bisa menata kembali perasaanku. Aku tak ingin istriku melihat seraut wajah menyesal dan kehilangan dariku. Aku ingin Asih sekolah, Asih harus masuk SMA favoritnya! Sudah terbayang di benakku bagaimana senang dan Bangganya dia bisa masuk SMA yang menjadi idaman semua anak SMP yang sudah lulus. Aku tahu, Asih murid yang pintar. Nilai UAN nya sudah lebih dari cukup untuk masuk ke SMA tersebut.

    Aku melangkah gontai. Separuh hatiku gembira karena Asih bisa sekolah. Empat setengah juta cukup untuk membayar semua biaya pangkal masuk sekolahnya. Biaya yang lain nanti lah aku pikirkan lagi. Yang penting Asih memenuhi syarat dulu. Namun, entah kenapa di sisi lain aku ingin menangis. Plakat-plakat kebangganku dan bukti pengabdianku untuk pendidikan sekarang telah berpindah tangan. Tidak ada lagi yang bisa aku lap sambil bersiul tiap sore di lemari ruang tamu.Tak terasa pintu reyot rumahku telah terlihat. Siti, istriku menyambutku dengan perasaan khawatir.

    “Bapak dari mana Pak? Tadi ada laki-laki muda mencarimu. Dia meningggalkan bungkusan itu dan sebuah surat untukmu. Aku takut sampeyan kenapa-napa.”

    Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Keringat dingin kurasakan dari tengkukku. Aku kenal bungkusan itu. Buru-buru kubuka dan benar saja dugaanku. Semua plakat dan piagam yang tadi aku jual utuh disana. Apa laki-laki itu berubah pikiran? Ah, mungkin harga yang kuberikan terlalu mahal dan ia tak jadi membelinya.

    Batinku bergejolak riuh.Tubuhku langsung merosot ke kursi dan kubuka surat darinya. Dan sehelai kartu nama terselip di amplop itu.

    Pak Giman yang saya cintai dan selalu saya jadikan teladan,

    Ini saya kembalikan semua plakat dan penghargaan Bapak. Semua penghargaan itu tidak hanya berarti untuk Bapak. Tapi sama besarnya artinya untuk kami. Murid-muris yang telah bapak didik dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab. Sampai kapanpun, dan jadi apapun kami sekarang kami akan selalu bangga menjadi murid Bapak. Saya sadar ini tak sebanding dengan semua jasa Bapak kepada kami. Kapanpun Bapak butuh bantuan, Bapak bisa hubungi saya kapan saja.Alamat dan nomer telepon saya ada di kartu nama yang saya tinggalkan.

    Saya berjanji akan sowan ke rumah Bapak lain waktu. Maaf Pak, saya tidak bisa lama-lama tadi, karena ada urusan yang lainnya. Jadi saya tuliskan surat ini dan saya titipkan kepada Ibu. Mungkin beliau lupa dengan saya, tapi saya yakin Bapak pasti ingat dengan saya.

    Pujiadi, lulusan tahun 85.

    Langsung terbayang sosok kecil, kurus, dan hitam. Muridku yang bernama Pujiadi. Tak kusangka sekarang dia bisa menjelma menjadi laki-laki gagah, tegap dan berkulit bersih. Lebih dari itu, kurasa di juga sudah berhasil membuktikan dirinya sukses. Terharu aku mengingatnya.

    Tak ada kata-kata yang bisa kuucapkan lagi. Hanya air mata yang begitu deras mengalir tanpa diminta. Aku hanya bisa bersujud syukur dan menengadahkan terima kasih yang sebesar besarnya untuk Gusti Allah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

JANGAN PERNAH B…

jejak-langkah

JANGAN PERNAH BERFIKIR SERIBU LANGKAH,

JIKA SATU LANGKAHPUN BELUM PERNAH KAMU LAKUKAN…!!!

 

Leave a comment

Filed under MOTIVATIONS, Uncategorized